nanos gigantium humeris insidentes

Pada tanggal yang sama sebelum saya lahir di 210 tahun sebelumnya, Isaac Newton mengirim surat ke Robert Hooke : “If I have seen further it is only by standing on the shoulders of giants”

potongan isi surat tersebut merupakan pemaknaan dari ungkapan yang menjadi judul tulisan ini. seorang kurcaci berdiri di atas pundak raksasa mengandung arti bahwa seseorang dapat melihat dalam sudut pandang yang lebih luas secara intelektual bukan karena kemampuan penglihatannya yang lebih hebat ataupun kemampuan fisiknya melainkan karena pijakan atau berlandaskan pemikiran-pemikiran besar para pendahulu.

Saya pikir seperti inilah seharusnya seorang guru berperan. seorang guru yang bisa melihat lebih jauh mentransfer pengetahuan kepada muridnya bukan sebagai orang yang berdiri lebih tinggi di atas podium dan menyampaikan dongeng secara memukau pada murid hanya duduk di lantai mendengarkan melainkan mengangkat muridnya dan menggendong di atas pundaknya sehingga minimal merasakan atau melihat minimal seperti apa yang dilihat oleh sang guru. Lebih baik lagi jika sang murid yang digendong mampu melihat lebih jauh.

Proses belajar-mengajar memang perlu usaha dari kedua belah pihak, baik yang ingin belajar maupun yang mengajarkan. kalau dari ungkapan sebelumnya, sang kurcaci (murid) mesti berusaha memanjat dan menjaga keseimbangan sedangkan sang guru harus membantu muridnya memanjat bahkan menanggung beban murid yang akan memanjat pundaknya. Usaha dari kedua pihak semata-mata hanya berharap mendapat pandangan yang berbeda terhadap dunia, sukur-sukur lebih baik atau lebih indah sehingga dunia dapat lebih dipahami dan dinikmati.

Kisah perjuangan tersebut dapat terjadi di setiap tempat dan saat. Bahkan siapapun bisa kebagian peranan. Namun, ada suatu tempat yang bernama sekolah yang setiap orang meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, minimal 20 tahun dibutuhkan hingga mencapai taraf doktoral. Hingga tiba masanya setelah tahap tersebut pencapaian belajar dilakukan sendiri dan dari komunitas ilmiah.

Sekolah adalah tempat rekreasi dari kehidupan dunia. Hanya di sekolah, kita bisa salah dan risiko atas kesalahan tersebut tidak sebesar jika dibandingkan kesalahan tersebut dilakukan di kehidupan sehari-hari. Sekolah ibarat permainan, tempat belajar sesuatu dengan menghadapi tantangan yang jika gagal maka risikonya tidak terlalu mahal dan masih ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa sekolah itu kurang memberikan manfaat signifikan. Hal ini bisa disebabkan dua hal, sekolah yang tidak bisa mengikuti perkembangan dunia atau dunia yang mandek alias tidak berkembang sehingga pengetahuan yang lama masih diberlakukan. Sekolah yang tidak mengikuti perkembangan adalah sekolah yang proses penggalian atau pemanjatannya terganggu. Proses pemanjatan ibarat mesin, kalau tidak jalan bisa jadi tidak ada bahan bakar (tidak ada yang ingin betul-betul belajar, hanya mengejar ilusi semu:nilai,gelar,pangkat,jabatan,termasuk uang dan ketenaran), pelumasnya sudah jelek (fasilitas dan anggaran), atau komponen mesinnya yang sudah berkarat (yang mengajar tidak dipelihara dan diregenerasi). Dunia yang mandek adalah dunia yang jika terjadi kesalahan, maka kesalahan tersebut akan berulang-kali terjadi tanpa ada orang merasa bahwa hal tersebut adalah salah. Seberapapun maju pengetahuan yang dimiliki, jika hal yang salah dibiarkan salah bahkan dibenarkan maka yang terjadi adalah dunia yang mandek.

Ya, betul! dua-duanya terjadi di negara kita tercinta Republik Indonesia.

0 Responses to “nanos gigantium humeris insidentes”


  1. No Comments

Leave a Reply




Kron terbaru

Disclaimer

blog ini merupakan blog pribadi. Tulisan yang dipublikasikan merupakan pendapat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. dengan membaca tulisan yang ada di sini penulis dilepaskan dari tanggung-jawab terhadap segala kesan, kerusakan, dan keburukan lainnya setelah membaca blog ini. jika ingin mengutip, silakan sertakan link yang merujuk ke blog ini. Tulisan di blog ini dibuat berdasarkan kapasitas penulis sebagai individu.

Perihal

Nama : Peb Ruswono Aryan
Sebutan : Peb, Pebbie, pe-e-be (peb dieja per huruf)
Kelamin : Male
Tahun Lahir : 1986
Pekerjaan : Tukang Pijat... Keyboard laptop ;;)
Hobi : tidur, minum susu
Olah raga : Wushu, Renang
Habitat : Lab GAIB Informatika ITB, RadioKampus ITB, codena.co.id

lembaran lain

Cari

 

March 2010
S M T W T F S
« Aug    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
  • about me

  • Blogroll

  • Digital Mark Reader (DMR)

  • GameDevId

  • Inside ITB

  • reklame