Indonesia sepertinya kurang seru kalau tidak ada konflik. Serasa hambar kalau di Indonesia itu damai-damai saja. lihat saja liputan media mainstream baru-baru ini.
Deddy vs Roy
Dua orang yang sedang cari sensasi dengan membuat konflik yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Deddy memanfaatkan profil Roy yang kontroversial di mata publik. Sedangkan Roy memanfaatkan dunia Deddy yang ‘basah’ untuk melakukan debat kusir sesuai dengan hobinya berhubung dengan ‘blunder’nya terhadap komunitas blogger dan hacker.
FPI vs AKKBB yang berlanjut dengan FPI vs NU
Perseteruan yang dimulai dari konspirasi pengalihan isu (dari sawung) kenaikan BBM yang akan naik lagi dengan memanfaatkan sifat plin-plan pemerintahan SBY dalam membuat ketegasan masalah Ahmadiyah qodiyyan. Entah dalam kedua perseteruan itu yang mana yang merupakan perseteruan utama. apakah kejadian penuh dengan adegan vulgar di monas atau penabuhan genderang perang antar laskar paramiliter kedua organisasi yang menjual label dan simbol agama tertentu.
apakah karena perseteruan yang pertama sudah mulai terdengar ‘basi’ karena tidak sedikit orang-orang yang berpandangan cukup bijak dalam menilai kejadian ini sehingga membongkar kedok konflik horizontal sebagai pengalihan isu kenaikan BBM? dalam kepanikan, lalu dibuat skenario berikutnya yaitu konflik antar organisasi massa yang berlabel agama dengan basis massa yang tidak seimbang. tentunya perseteruan kedua akan juga mengundang perhatian dari luar negri untuk melakukan sorotan dan penelitian terhadap suatu agama (over-generalisasi?) dengan data sampel yang (dinilai) cukup valid (overfitting?).
Kasus Skandal Anggota DPR
Bukan Indonesia namanya kalau kasus-kasus yang berbau aktivitas seksual tidak terangkat ke permukaan. Ketika strategi berbasis kekerasan tidak mempan lagi, masih ada cerita lain yang menarik bagi sebagian bangsa ini, Skandal/Pelecehan Seksual. Parahnya, kasus skandal atau pelecehan seksual bukan menimpa orang-orang biasa atau selebritis (mungkin sudah biasa) tetapi menimpa anggota legislatif dalam cakupan negara. Lucunya, ada kasus skandal yang jika buktinya dibeberkan maka sang istri mungkin akan menuntut cerai. Adapula kasus pelecehan seksual yang anehnya dari bukti-bukti dokumen visual memperlihatkan bahwa sang korbanlah yang memegang alat dokumentasi sambil tersenyum tetapi dalam kesempatan lain tampil bak opera sabun. Ah, aneh-aneh saja. Entah mana yang benar, yang jelas kalau tujuannya untuk mengalihkan perhatian rakyat bisa dibilang ‘agak’ berhasil juga.
Ataukah sebenarnya kejadian-kejadian belakangan ini dikondisikan untuk membingungkan rakyat kecil sehingga secara ajaib akan bermunculan sosok-sosok yang berlogo superhero bagi masyarakat Indonesia yang tidak lain bertujuan untuk men’curi start’ event yang akan terjadi tahun depan?
Memang kita tidak boleh hanya sekedar menduga-duga namun analisis kondisi yang tidak hanya melihat apa yang di depan mata amat perlu agar tidak terjebak dalam situasi yang salah di kemudian hari. inget kata bang napi.. WASPADALAH! WASPADALAH!
sebaik nya konflik yang ada, juga di tuliskan penyelesai nya