Ignorance is a bliss
Hasil renungan tadi malam setelah baca buku tentang python. Saya baru tersadar kalau selama ini media terlalu mengekspos ilmu alam dan kerekayasaan secara berlebihan dibanding ilmu sosial. Padahal kalau dipikir-pikir yang mempengaruhi kehidupan kita justru ilmu-ilmu sosial (ekonomi, sosiologi, psikologi, dll). Hipotesis saya tentang konspirasi media ini adalah agar pola pikir kita lebih tertarik ke ilmu alam lewat euphoria dan techno-hype dan melupakan orientasi pikiran kita mengenai bagaimana seharusnya kehidupan sosial kita berjalan.
Kalau dipikir-pikir fenomena ini adalah kasus perang pemikiran (ghozwul fikr’, CMIIW) sehingga setiap sendi-sendi kehidupan kita mengikuti aturan main pemikir-pemikir klasik. Bukan salah pemikirnya ataupun idenya. Kesalahannya justru terletak pada ketidak acuhan kita (kebanyakan orang, termasuk saya) sehingga kelemahan ide ini dimanfaatkan oleh segelintir orang (sebut saja kapitalis). Agar kepentingannya terjaga maka diresmikanlah sistem itu agar orang awam menganggap ‘memang seperti itulah sistemnya’ melalui propaganda di berbagai media.
Intisari dari tulisan ini adalah perjalanan menuju kebebasan berpikir yang sejati. Selama ini kita sudah merasa bebas, padahal sebetulnya tidak (jika anda merasa sebaliknya, sebaiknya pikirkanlah kembali). Agama merupakan jalan menuju kebebasan ini (setidaknya menurut apa yang saya yakini). Sudah diperkirakan bahwa arah kehidupan akan mencapai keadaan seperti sekarang, oleh karena itulah agama diturunkan. sebagai jalan bagi orang-orang yang berpikir.
0 Responses to “Antara Ilmu Alam dan Ilmu Sosial”