Mengapa baru sekarang berkomentar? padahal proses pemilihan sudah hampir selesai dalam artian suara sudah diberikan ke panitia pemilihan. Sebenarnya hanya merasa janggal dengan kejadian-kejadian akhir-akhir ini terkait dengan proses pemilihan tersebut. Dalam pilkada kali ini saya tidak menggunakan hak suara saya walaupun secara kependudukan saya tercatat dalam salah satu daerah di jawa barat.
Saya tertarik menyoroti somasi dari tim aman terkait kecurigaan terjadinya kesalahan (kecurangan). Saya jadi berpikir, dalam proses pemilu, seperti apa dasar atau latar belakang yang memotivasi untuk melakukan justifikasi atau menyatakan kecurigaan bahwa telah terjadi kecurangan dalam proses pemilihan. Bagaimana pula kita yakin bahwa telah terjadi kecurangan?
hipotesis saya diantaranya :
- jika saya seorang calon, maka saya akan menduga terjadi kecurangan dalam proses pemilihan/penghitungan suara jika saya sudah mengetahui dengan pasti atau memastikan jumlah suara yang akan saya peroleh.
- jika saya seorang anggota tim sukses, maka saya akan menduga terjadi kecurangan dalam proses pemilihan/penghitungan suara jika saya melihat indikasi terjadinya kecurangan pada perilaku panita pemilihan. Tentunya indikasi ini belum bisa menjadi bukti kuat secara hukum karena hanya berdasarkan penilaian subjektif dan satu arah.
Sampai saat ini baru dua perkiraan saya mengenai motif dari dugaan kecurigaan terjadinya kecurangan. mungkin anda bisa menambahkan lagi motif ini.
Hal lain yang menjadi pengganjal dalam pikiran saya adalah pertanyaan
Apakah saya calon yang benar, jika saya memobilisasi massa untuk melobi (baca: menekan) panitia untuk menunda proses penghitungan suara sampai tuntutan (hukum) tim sukses saya diproses?
Jadi teringat dengan isi salah satu kolom di koran yang saya baca sewaktu saya makan di kantin kampus (saat itu kalau tidak salah di akhir masa kampanye). Isi headline berita tersebut adalah salah satu calon terbanyak melakukan pelanggaran . Setelah saya baca lebih lanjut ternyata, yang terbanyak tersebut adalah pelanggaran administratif, sedangkan calon lainnya malahan ada yang melakukan pelanggaran pidana. Mengapa calon lain yang melakukan pelanggaran pidana tidak diekspos, bukankah nilai berita dari cerita tersebut lebih tinggi? Bagaimana ini? saya jadi meragukan independensi media tersebut (ungkapan yang klise sepertinya).
0 Responses to “Menyoroti Pilkada Jabar”