Sedang asik-asiknya browsing di lobby hotel, datang waktu coffee break dari acara di lantai atas. Beberapa orang turun ke bawah (lobby tempat saya duduk) dan mulai menyalakan rokoknya. Sambil mengobrol dengan koleganya, kadang-kadang tertawa karena candaan lokal. Asap mulai menyebar, tak sedikitpun memiliki tenggang rasa dengan penghuni kursi lain di dekatnya yang tidak terlalu suka asap rokok.
Sebetulnya saya tidak terlalu anti dengan orang yang merokok di dekat saya, asalkan asapnya tidak usah dikirim ke saya. Akhirnya saya pindah ke kursi lobby di seberang tempat yang saya duduki tadi. Sambil kesal, saya membuat kesimpulan subjektif. Bekerja di instansi yang memiliki label agama tidak menjamin perilaku sehari-hari mencerminkan ajaran agama. Rasa toleransi tertutup oleh desakan kebutuhan pribadi untuk mengasapi paru-paru yang sudah gatal.
Mungkin kali dia-nya gaktau kalo kamu alergi asap rokok Peb… Maklumin ajah lah…

Lagian emang gak semua orang tahu apa itu arti toleransi…
Same as you.
Gue juga paling sebel sama annoying smoker.
Saya nggak peduli kalau smoker tersebut tidak mengganggu kita, tapi saat kemudian ia mengganggu kenyamanan orang lain adalah hal yang sangat memprihatinkan.
ho-oh
aku juga tidak suka ko dengan orang perokok
tapi aku bekerja di pabrik rokok
bergaul setiap hari dengan orang-orang yang merokok
lama-lama aku jadi terbiasa..
padahal aku tetap ngga suka baunya!
*dilema
eh eh peb ko bisa nemu blog aku sih?? hehe
-jijie