Kongres Ikatan Alumni ITB 2007 dan Kritik untuk ITB

Hari ini sepertinya perjalanan setengah hari yang cukup panjang..

Setelah mengantarkan seseorang ke kampus tadi pagi, saya mampir ke kantor untuk ‘numpang’ mengunduh informasi tentang android (plugin eclipse dan video) karena informasi ini tidak dapat diakses dari kampus. Hasil ini lalu saya publikasikan agar penghuni milis yang tidak dapat mengakses plugin eclipse langsung (karena port https diblok dari tempat akses) bisa melakukan instalasi secara manual.

Jam 9 saya meluncur ke gedung CCAR (Annex) ITB untuk mengikuti workshop kompetisi pembuatan konten e-learning dari USDI ITB. Saya datang ke sana tidak secara langsung diundang melainkan atas permintaan seorang dosen (yang diundang langsung). Tadinya saya ingin ke kampus terlebih dahulu untuk menggunakan hak pilih, namun karena saya janji jam 9 akhirnya saya datang ke annex terlebih dahulu.

Setelah acara di annex selesai, saya meluncur bersama Suzy motor saya ke kampus. Ternyata kesempatan untuk mencoblos masih ada. Hanya dengan bermodalkan KTP (dan KTM yang sudah bolong) saya menghampiri stand salah satu kandidat untuk meminta rekomendasi karena saya tidak mempunyai kartu anggota Ikatan Alumni ITB apalagi membawa fotokopi ijazah lulus dari ITB. Setelah mengantri untuk verifikasi akhirnya saya mendapatkan name tag yang digunakan sebagai tiket untuk memilih. Pemilihan dilakukan di Aula Timur ITB, ternyata name tag tersebut diambil lagi oleh panitia (mubazir kah?). Sayang sekali name tag itu harus diambil, padahal saya baru memegangnya sebentar. Saya sudah menentukan pilihan sebelumnya jadi saya menyegerakan untuk memilih sebelum tergoda untuk ragu-ragu dan berubah pikiran.

Hal yang membuat saya gatal untuk mengomentari ada dua hal :

  • Menjadi alumni ITB tidak menjamin kesadaran untuk buang sampah pada tempatnya. sayang sekali saya tidak membawa kamera digital, jadinya agak basi kecuali bagi pihak lain yang juga datang ke kongres.
  • mekanisme pemilihan yang primitif. baca ini

Disclaimer tulisan berikutnya membutuhkan anda untuk menggunakan kapasitas intelektual anda karena saya akan memaparkan hal yang bersifat implisit. Saya tidak bertanggung jawab terhadap tulisan ini secara publik karena tugas saya hanya menyampaikan kecuali hubungan resmi.

Setelah memilih saya tidak tahu mau ke mana lagi. Akhirnya saya putuskan untuk menemui dosen untuk membicarakan proposal pembuatan konten e-learning. Dari portal ini saya mendapat salah satu link ke pemenang kompetisi serupa tahun lalu. Lalu saya melihat contoh salah satu mata kuliah di situs ini. Niat awalnya ingin melihat bagaimana hasil tahun lalu untuk dijadikan acuan standar minimal pencapaian yang akan ditulis dalam proposal.

Namun, ada yang menarik. Ternyata dari salah satu mata kuliah tersebut yang menurut pihak PPJJ (Pusat Pembelajaran Jarak Jauh) a.k.a e-Learning sudah dipakai sebagai contoh bagi perguruan tinggi lain di Indonesia yang terhubung melalui backbone bersama bernama INHERENT, ada konsep yang salah (i repeat, konsep yang diterangkan salah).

Waduh, bagaimana ini? saya sendiri tidak mengerti salahnya di mana tetapi dari dosen yang memang keahliannya pada bidang tersebut dan memang di dalam Fakultas/Sekolah yang menaungi topik tersebut yang menyatakan kesalahan tersebut. Memang mata kuliah yang memberikan konsep yang salah tersebut bukan membidangi topik yang diajarkan namun memiliki salah satu kelompok keahlian yang main-main di daerah tersebut sehingga mengiris materi dari sekolah lain.

Bagaimana ini? jika pihak luar itb yang melihat kesalahan ini tentunya tidak hanya mempermalukan prodi yang mengajarkan mata kuliah tersebut. tetapi juga mempermalukan instansi lain di dalam itb sebagai penaung ilmu tersebut.

Hal lain yang ingin saya komentari dari pembuatan konten e-Learning ini adalah tim teknis untuk pembuatan konten multimedia (jadi dosen hanya memberikan spesifikasi tanpa harus benar-benar membuat) adalah tim teknis yang ditunjuk oleh panitia kompetisi. Bagian yang menjadi persoalan adalah besar anggaran yang di’saran’kan sebagai anggaran untuk tim teknis yang ditunjuk dalam TOR (Term of Reference) penulisan proposal sudah ditentukan yaitu sepertiga atau sekitar 33 % dari total anggaran. Sementara dosen peserta kompetisi diwajibkan untuk juga mengalokasikan 5 % dari total anggaran sebagai biaya seleksi dan monitoring. Hal baiknya adalah tim teknis yang ditunjuk tersebut melibatkan unit mahasiswa dan lembaga dibawah naungan USDI ITB (baca: comlabs) yang sering menyelenggarakan training.

kalau alasan dari penunjukan ini adalah supaya hasilnya sesuai dengan standar kualitas dari panitia, kenapa tidak diterbitkan saja spesifikasi standar kualitasnya?

jadi tim lain juga bisa di-hire oleh pemenang kompetisi untuk mengimplementasi pembuatan konten.

apakah ada tendensi dari produsen perangkat lunak tertentu yang membuat lembaga pendayagunaan produknya di dalam itb (yang juga membuat MoU kontroversial dengan pemerintah).

0 Responses to “Kongres Ikatan Alumni ITB 2007 dan Kritik untuk ITB”


  1. No Comments

Leave a Reply




Kron terbaru

Disclaimer

tulisan yang ada di sini merupakan pendapat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. penulis tidak bertanggung-jawab terhadap segala kerusakan dan keburukan lainnya setelah membaca blog ini. jika ingin mengutip, silakan sertakan link yang merujuk ke blog ini.

Perihal

Nama : Peb Ruswono Aryan
Sebutan : Peb, Pebbie, pe-e-be (peb dieja per huruf)
Kelamin : Male
Tahun Lahir : 1986
Pekerjaan : Tukang Pijat... Keyboard laptop ;;)
Hobi : tidur, minum susu
Olah raga : Wushu, Renang
Habitat : Lab GAIB Informatika ITB, RadioKampus ITB, codena.co.id

lembaran lain

Cari

 

November 2007
S M T W T F S
« Oct   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
  • about me

  • Blogroll

  • Digital Mark Reader (DMR)

  • GameDevId

  • Inside ITB

  • reklame