Pahala dan Dosa hanya sebatas nilai moral. Digunakan untuk menentukan apakah suatu kegiatan atau perbuatan benar atau salah. Oleh sebab itu seharusnya Pahala dan Dosa merupakan nilai biner bukan bernilai ordinal. Pahala dan Dosa merupakan parameter dari fungsi motivasi suatu aktivitas.
Seringkali didengar dalam ceramah bahwa suatu kegiatan X nilai pahalanya sebesar Y dan kegiatan P dosanya sebesar Q, dst. Dengan adanya besaran Pahala dan Dosa secara implisit ingin disampaikan bahwa pahala dan dosa adalah nilai spiritual. Kelemahan dari ekspresi seperti ini adalah mungkin timbul persepsi jika melakukan perbuatan-perbuatan yang berdosa sebesar X maka minimal harus dilakukan perbuatan yang berpahala minimal sebesar X juga. Lalu nilai spiritual terhadap perbuatannya bagaimana dong? Nah inilah yang ingin saya sampaikan. Bahwa suatu perbuatan lebih baik dinilai apakah merupakan perbuatan yang berpahala atau justru berdosa tanpa memberikan besaran apapun. Hal ini supaya mempermudah dalam mengambil keputusan terhadap suatu tindakan sehingga menghindari dari ide syetan yang menggoda dengan ‘nggak apa-apa melakukan X yang berdosa Y, nanti bisa ‘ditambal’ dengan P yang pahalanya lebih besar dari Y’.
Kalau sudah melewati tahapan nilai moral. waktunya menghayati nilai sprititual dari suatu perbuatan. kenapa? karena dengan menghayati nilai spiritual akan memberikan akselerasi dalam refleks pengambilan keputusan suatu perbuatan. Jadi, kita akan cenderung berbuat kebaikan dan cenderung menghindari perbuatan yang tidak baik. Mumpung bulan puasa..
Assalamu’alaikum,
berkunjung peb..
keren2 tulisannya!
kali ini, tulisan ini yang favorit.
=congrats=
Dalem tulisannya peb…
Pengen bikin tulisan yg dalem juga ah, gak sempet” dari kemaren…
Ribet amat sih ngejelasinnya
Allah aja menjelaskannya dengan mudah agar dapat dicerna oleh semua kalangan.
Dulu saya juga berpikiran seperti itu hingga mendapatkan pencerahan. Jadi begini…
Di akhirat, orang-orang yang masih punya dosa akan dicelupkan dulu di neraka (ada yang kekal di dalamnya, ada juga yang cuma sebentar, ya seribu tahun ukuran dunia gitu lah). Sedangkan orang-orang yang telah membersihkan dari dari dosa (misal telah bertaubat, rajin istighfar serta istiqamah dengan amalan-amalan sunnah), maka mereka mendapatkan imbalan berupa jannah (surga) tanpa perlu mampir di neraka.
Coba hayati kisah hari pembalasana di surah An-Naml (27) ayat 89-90:
http://web1hari.com/file/gif/27/27_89.gif
http://web1hari.com/file/gif/27/27_90.gif
89. “Barangsiapa membawa kebaikan, maka dia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka merasa aman dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu.”
90. “Dan barangsiapa membawa kejahatan, maka disungkurkanlah wajah mereka ke dalam neraka. Kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan.”
Dikutip dari akhir surah tersebut, tepatnya kalimat terakhir surah An-Naml (27) ayat 93:
“….Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Kesimpulannya, biarlah perhitungan itu serta eksekusi imbalannya pada hari yang dijanjikan menjadi urusan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil.
Kewajiban kita adalah terus memperbaiki diri sesuai dengan standar yang diberikan Allah, melalui beragam fasilitas ibadah yang telah disediakan, baik sebagai sebuah kewajiban maupun amalan sunnah.
Selanjutnya, berhati-hatilah dalam menyampaikan pendapat mengenai hal-hal yang gaib tanpa terlebih dahulu menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan.