« Older Home
Loading Newer »

Evolusi makna suatu istilah

Suatu istilah baik berupa kata maupun frasa bisa memiliki dua cabang pemaknaan yaitu denotatif dan konotatif. Adapun pemaknaan yang umumnya dilakukan bergantung pada konteks dan pengasosiasian istilah dengan makna. Jika suatu istilah lebih sering digunakan secara konotatif baik positif maupun negatif maka akan membentuk ‘common sense’ atau persepsi awal maka istilah tersebut menjadi konotatif, begitu pula dengan denotatif.

Sebuah operator telekomunikasi seluler baru-baru ini membuat sensasi di media dengan menggunakan istilah untuk nama “brand” program promosinya yang kemudian ditanggapi negatif oleh anggota komite badan regulasi telekomunikasi Indonesia. Anggota komite tersebut menilai istilah yang digunakan memiliki makna konotasi negatif yang tidak pantas digunakan khususnya di bulan ramadhan sekarang.

Proses “branding” sendiri merupakan sebuah usaha membelokkan pemaknaan suatu istilah yang diharapkan memberi keuntungan pada pihak yang mengusahakannya. Proses ini memanfaatkan sifat adaptif dari budaya manusia dalam mempersepsikan suatu istilah. Pada kasus istilah untuk program promosi salah satu operator telekomunikasi seluler tersebut, ada nilai positif yang bisa diambil yaitu memanfaatkan istilah yang “populer” untuk menarik perhatian sekaligus mengurangi pemaknaan konotasi negatif yang selama ini diamini oleh masyarakat. Jika istilah tersebut tidak digunakan dan mencari istilah lain yang memiliki makna positif maka mungkin yang terjadi adalah pembelokan makna menjadi tidak lagi positif (unsur komersialisasi/keuntungan satu pihak justru membuat makna istilah yang tadinya baik menjadi luntur). Padahal dengan menggunakan istilah yang sudah dibaptis sebagai istilah yang memiliki makna positif justru membiarkan istilah yang negatif menjadi tetap negatif. Kalau hal ini dibiarkan, lama-kelamaan istilah di bahasa Indonesia yang memiliki makna positif habis karena makna positifnya dilunturkan oleh kepentingan meraup keuntungan.

Pelajaran hidup dari supir angkot

Di tengah hilir mudik kota yang penuh kendaraan sehingga membuat jalan-jalan menjadi macet. Ada sebuah pelajaran tentang makna hidup dari orang yang mungkin seringkali dicemooh, supir angkot.

arti semangat

biarpun jalan sedang macet, supir angkot tetap berani menatap ke depan dan mengajak orang lain untuk maju bersama-sama. merasa kurang semangat menjalani keseharian? cobalah bercermin ke supir angkot.

arti berbagi

walau mungkin implementasinya kadang tidak mengenakkan, di kalangan supir angkot yang satu trayek ada istilah “berbagi penumpang”. yang di belakang biasanya mengalah jika angkot yang di depan sudah “ngetem” hanya dengan keyakinan bahwa “tiap orang punya jatah rejekinya masing-masing”.

suatu ketika saya menonton tayangan BBC tentang kehidupan mamalia “the life of mammals”. saya jadi terpikir, bahwa mamalia ter”besar” yaitu paus tidak memakan “sesamanya”, melainkan ikan kecil dan plankton yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan populasi paus. mamalia karnivora tidak besar dibandingkan mamalia herbivora.

bahkan mamalia primitif seperti mamalia berkantung pun tidak perlu khawatir tidak mendapat “makanan”. Mungkin hanya manusia, mamalia yang paling serakah. ingin memiliki sesuatu yang melebihi kapasitasnya sendiri dan tidak jarang justru mengorbankan hak atau rizki manusia lainnya. Tidak jarang memang binatang jauh lebih “manusiawi” dibanding manusia itu sendiri. mungkin itulah mengapa, jarang sekali bisa menemukan manusia yang ‘besar’.

arti jenuh

saya termasuk orang yang cepat bosan. makanya salut dengan para supir angkot, yang tidak bosan-bosan setiap hari hanya melewati jalan yang “itu-itu saja” berkali-kali.

terima kasih Bapak sopir! semoga senyum selalu menyertai anda. merdeka!

Jadi korban UU ITE karena mengeluh terhadap layanan kesehatan

Seorang ibu bernama Prita mulyasari mendekam di tahanan kepolisian. Terpisah dari kedua anaknya yang masih berusia di bawah lima tahun yang disebabkan vonis pengadilan atas tuntutan Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera Tangerang terkait keluhan Ibu Prita yang dituliskan ke beberapa teman pribadinya yang entah oleh siapa ternyata menyebar ke mailing-list lain.

Apakah pantas sebuah instansi yang bergerak di bidang kesehatan memisahkan seorang Ibu dari anak-anaknya yang masih balita?

Apakah UU ITE telah menjadi alat untuk menjerat kritik dan keluhan bagi pihak-pihak yang memiliki uang untuk menyewa pengacara dalam rangka menuntut?

Bukankah dahulu sudah banyak blogger yang mengeluh akan beberapa pasal dalam UU ITE yang terkait dengan pencemaran nama baik?

Mengapa negara pun diam saja mengetahui UU buatannya digunakan untuk menekan rakyat kecil (seorang ibu masih dianggap kecil dibanding instansi kesehatan)?

Mengapa Ibu Mulyasari ditahan di kepolisian padahal banyak koruptor yang hanya dikenakan tahanan rumah?

oleh sebab itu saya menyatakan mendukung gerakan moral untuk membebaskan Ibu Prita Mulyasari agar dapat segera dipertemukan dengan kedua anaknya.

Hari gini masih ngomongin ideologi?

Menyingkapi pidato salah seorang calon yang katanya ‘pro rakyat dan menjunjung tinggi ideologi’. nothing personal about the person who spoke that. Hanya saja, perlu digaris bawahi bahwa frase tersebut merupakan hal yang kontradiktif dalam logika politik. Frase tersebut hanya akan digunakan sebagai jargon atau mantra politik. Sebagai sebuah kegiatan penyelesaian persoalan, frase tersebut jelas salah sasaran alias salah metode.

frase lainnya yang penuh kontradiksi (secara politik) adalah istilah atau label partainya wong cilik.

alasannya adalah sebagai berikut..
Continue reading ‘Hari gini masih ngomongin ideologi?’

Kebangkitan Nasional dan Gerakan Pemuda untuk Pembaharuan

Hari ini 101 tahun yang lalu merupakan hari lahirnya organisasi boedi oetomo yang disepakati sebagai kejadian penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Terlepas dari kontroversi apakah 20 mei 1908 merupakan waktu yang tepat dalam mengindikasikan kebangkitan nasional, Ada hal penting yang perlu dimaknai bersama khususnya bagi saya dan anda yang merasa termasuk dalam generasi muda bangsa ini (kecuali kalau sudah merasa mapan/tua atau masih anak-anak). Hal penting tersebut adalah bahwa pada masa itu, pemikiran-pemikiran yang revolusioner dan kreatif lahir dari pemuda-pemudi indonesia yang berpendidikan. Kita perlu sadari bahwa yang perlu menjadi ciri khas dari pemuda adalah pemikiran, bukan penampilan. Sungguh ironis memang jika kita melihat di media massa bahwa pemuda bangsa ini mulai dari remaja hingga dewasa-muda lebih mirip seperti kambing atau hewan ternak yang tidak memiliki pemikiran yang mandiri (minimal pemikiran, walaupun aspek kehidupan lainnya mungkin masih disubsidi orang tua).

Coba perhatikan, bagaimana perilaku remaja-remaja dalam mengikuti acara yang bersifat apresiasi (konser musik) atau pendukungan (supporter olahraga/sepak bola) yang diarahkan dengan dasar kesukaan / selera. lalu coba perhatikan di sekolah, seperti apakah makna kegiatan belajar mengajar di sekolah. Apakah sebagai sarana pelatihan berpikir kritis, atau sekedar rutinitas mengikuti doktrin masyarakat dan orang tua? Seperti apakah aktivitas para pelajar ini? mengangguk-angguk tanpa sadar di konser musik, atau menggeleng-geleng tanpa sadar kala dugem? atau mengelilingi etalase toko sambil menggerogoti kantong orang tua?

Coba perhatikan dampaknya terhadap perilaku mahasiswa. seperti apakah citra mahasiswa? orang berpenampilan necis bermobil mewah dan duduk diam bagai mayat di ruang kuliah? gerombolan yang mengisi ruang berita dengan kegiatan berkelahi baik antar mahasiswa yang berbeda jurusan/kampus ataupun dengan pihak lain polisi/masyarakat?

Coba perhatikan dampaknya setelah lulus dari kuliah dan berkeluarga? …


Kron terbaru

Disclaimer

blog ini merupakan blog pribadi. Tulisan yang dipublikasikan merupakan pendapat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. dengan membaca tulisan yang ada di sini penulis dilepaskan dari tanggung-jawab terhadap segala kesan, kerusakan, dan keburukan lainnya setelah membaca blog ini. jika ingin mengutip, silakan sertakan link yang merujuk ke blog ini. Tulisan di blog ini dibuat berdasarkan kapasitas penulis sebagai individu.

Perihal

Nama : Peb Ruswono Aryan
Sebutan : Peb, Pebbie, pe-e-be (peb dieja per huruf)
Kelamin : Male
Tahun Lahir : 1986
Pekerjaan : Tukang Pijat... Keyboard laptop ;;)
Hobi : tidur, minum susu
Olah raga : Wushu, Renang
Habitat : Lab GAIB Informatika ITB, RadioKampus ITB, codena.co.id

lembaran lain

Cari

 

February 2010
S M T W T F S
« Aug    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  
  • about me

  • Blogroll

  • Digital Mark Reader (DMR)

  • GameDevId

  • Inside ITB

  • reklame